Di sebuah desa yang masih indah dan alami, tinggallah
anak dari keluarga yang ayahnya seorang tukang sol
sepatu sedangkan ibunya hanya berdiam diri di rumah
mengurus rumah tangganya, dia bernama 'Satria'. Dia
anak yang suka sekali berenang setiap sore dia pergi
ke laut untuk berenang, sedangkan pagi harinya dia
pergi sekolah, siang harinya dia ikut bekerja dengan
ayahnya sebagai tukang sol sepatu.
Kemarin, dia merasakan suatu hari yang sangat
menyedihkan, bapaknya dihajar sama preman di jalanan,
sedangkan dia tidak bisa berbuat banyak untuk melawan
preman itu, dengan tangan kosong dia melawan preman
yang berjumlah banyak itu.
Pada hari ini, dia mempunyai prinsip bahwa hari ini
harus lebih baik dari yang kemarin, dia berangkat
sekolah seperti biasanya. Sesudah sekolah dia langsung
mengambil barang - barang dan alat-alat yang biasanya
dibawa oleh bapaknya yang menjadi tukang sol sepatu.
"Ayo pak, kita kerja lagi seperti kemarin !" Satria
mengajak bapaknya dengan semangat yang membara.
"Bapak lagi sakit, nak......, " bapaknya menjawab
dengan memegang dadanya yg lagi batuk, dan kesakitan
di bagaian matanya karena di hajar preman.
"Ayo..., hari ini pasti lebih baik dari yang kemarin,"
dia trus merayu bapaknya supaya dia bisa kerja lagi.
Dengan semangat bapaknya menjawab "Baiklah... nak...,
betul kata-kata kamu, jangan pantang menyerah."
"Gitu dong pak! " Satria tersenyum melihat bapaknya
mau bekerja lagi.
"Mengapa kamu lebih semangat dari hari - hari yang
kemarin?" tanya ibunya.
"Karena Setiap hari itu adalah hari yang baru maka
hadapilah hari yang baru itu dengan semangat
baru....,"Satria memberitahukan bapak dan ibunya bahwa
hari itu pasti berbeda.
Bapaknya Satria menyuruh mereka berhenti
berkata"Ayo... jangan ngomong terus..., ibu juga ajak
ngomong lagi anaknya!"
Mereka berjalan dengan langkah yang penuh harapan agar
bisa mendapatkan hasil yang banyak hari ini.
“Sol……., sol………, solll…. Sol sepatu…!” dengan
serentaknya mereka berteriak.
"Saya pak, saya .....!" teriak seorang ibu sambil
menuju tukang sol sepatu tersebut.
"Ya.. ya bu... kenapa sepatunya?” bapaknya Satria
bertanya kepada si ibu tadi.
"Ini sepatu anak saya udah rusak padahal kemarin saja
saya beli sayangkan kalo dibuang " ibu ini
memberitahukan Bapaknya Satria.
"Mari saya perbaiki...." kata bapaknya Satria sambil
mengambil sepatu anak ibu itu.
Beberapa menit kemudian, Satria disuruh untuk memberi
sepatu yg telah diperbaiki.
"Ini bu.. udah jadi...” Satria memberikan sepatu yg
telah diperbaiki oleh bapaknya.
"Makasi, berapa jadi harganya? " tanya si ibu itu
mengambil sepatu yang sudah jadi.
"Cuman Rp. 2.000 saja,” jawab Satria datar.
“Ini pak..,makasi..." si ibu itu memberikan uang pada
Satria.
“Sama–sama bu…” Sambil tersenyum satria mengambilnya.
Kemudian mereka berdua berjalan lagi untuk mencari
rizqi di tengah jalan yang sepi Satria menemukan
sepatu yang berharga, berupa sepatu kaca, tetapi
sepatu ini masih kotor. Kemudian setelah dibersihkan
dikemas dalam bentuk rapi dia menjualnya pada para
raja, dan sang raja membelinya dengan harga yang cukup
mahal. Sepasang sepatu itu, raja membelinya satu
milyar, dengan sangat bahagia bapaknya mengambilnya.
Akhirnya dia hidup bahagia dengan keluarganya.
Sekarang mereka pergi ke kota, jadi mereka merubah
kehidupannya yaitu, pedagang yang sukses menjual
berbagai makanan, mempunyai restoran yang terkenal.
Dan setiap dia berjalan di kota semua orang
menyapanya, dan menjadi keluarga yang terpandang.
“Selamat pagi bapaknya Satria…” orang–orang menyapa
bapaknya Satria.
“Pagi bu…pagi pak…!” sambil tersenyum bapaknya Satria
menyapa orang dengan gaya sombong.
“Saya mau melamar kerja di rumah bapak boleh?” tanya
seseorang dan menawarkan dirinya untuk bekerja di
tempatnya.
“Boleh – boleh saja…!” dia menerimanya.
Tetapi setelah jadi orang kaya dia memusuhi
orang–orang di sekitarnya, dia juga dimusuhi oleh
semua orang, berbagai bencana yang di hadapinya , dia
dirampok oleh beberapa perampok yang datang di
rumahnya, di saat dia tidur dengan nyenyaknya,
terdengan suara–suara yang begitu mencurigakan, tetapi
dia hiraukan, mungkin saja itu adalah kucing, tetapi
perampok mengambil seluruh hartanya surat rumah–rumah
penting dan lainnya.
Pagi harinya, dia berteriak sekencang–kencangnya.
“Tolong…tolong…rumah saya kerampokan!” bapaknya Satria
berteriak sekencang-kencangnya.
Tidak ada satu orangpun yang mau menolongnya, dan
tiba-tiba polisi datang.
“Pemisi pak!” kata polisi sambil menghampiri mereka
sekeluarga.
“Ada apa ini ?” bapaknya Satria berkata.
“Ini bukan rumah anda, dan surat–surat rumah ini sudah
ada pada saya, dan di nyatakan bahwa bapak tidak
memiliki rumah ini,” kata pak polisi itu sambil
menyegel rumah Satria.
“Lho.. ini rumah saya hasil kerja keras saya,” kata
bapaknya satria tidak mengerti. Tapi polisi itu tidak
peduli.
“Gimana ini, Pak?” tanya Satria bingung.
“Nggak tahu, Sat. Bapak juga nggak tahu harus pergi
kemana.”
“Kita pergi kerumah yang dulu aja,” kata ibu
menyarankannya
“Baiklah, kalo begitu mari kita pergi kesana,” dengan
putus asa bapak menyetujui saran ibu Satria.
Merekapun berjalan beriringan penuh kesedihan menuju
rumah lama mereka. Samapai di sana mereka
membersihkan lagi tempat yang sudah mereka tinggalkan
dulu.
Pagi harinya, mereka kembali beraktifitas, bapak
Satria pergi ke toko yang dulu pernah dia tempati
untuk berdagang. Tetapi sesampainya disana semua
barang – barangnya di ambil isi – isinya semua kosong.
Keterkejutan membuatnya terserang jantung dan
akhirnya menghembuskan nafas terakhir.
Saat menghadapi pemakaman bapaknya Satria hanya bisa
menangis. Dia sangat sedih. Tapi dia sadar kesedihan
itu tidak ada gunanya. Dia mencoba bangkit dan
berpikir untuk merubah hidupnya.
“Aku tidak boleh gagal aku harus bisa, tanpa bapakpun
aku bisa membahagiakan ibuku”.
Satria berpikir untuk merantau ke kota untuk merubah
hidupnya. Ternyata hidup di kota juga tidak kalah
sulitnya. Di tengah perjalanannya dia kecopetan
padahal bekalnya cuman itu. Demi mempertahankan
hidupnya dia mengemis dijalanan dan tidur di tempat
yang beratapan langit biru sampai suatu hari seorang
perempuan yang kasihan dan mau membantunya.
Ketika mereka pertama bertemu, Satria menemukan
perempuan itu membutuhkan seseorang untuk membawakan
belanjaannya. Satria mengamati perempuan itu.
Dandanannya menunjukkan dia orang kaya. Lagipula dia
cantik. Perempuan itu membuatnay tertarik. Satria
tidak ingin berbuat jahat padanya. Dia hanya ingin
mengenal lebih dekat perempuan itu. Lagipula dia
berharap bisa mendapatkan sedikit uang dari perempuan
itu. Satriapun mendekat dan menawarkan bantuan.
Tak disangaka wanita itu menanggapinya. Merekapun
berkenalan. Berawal dengan kedipan mata, lalu
berlanjut pada pendekatan selama berbulan-bulan.
Sampai akhirnya dia berpacaran dengan wanita ini
selama kurang lebih 5 tahun. Mereka lalu menikah dan
wanita itu membawa Satria ke rumahnya yang mewah.
Mimpi Satria terkabul.
Karena terlau lama terlena dengan kehidupan yang mewah
ini, Satria sudah mulai melupakan ibunya yang ada di
kampung. Sang istri lalu bertanya kepada Satria.
“Mas, dimana ibu kamu? Aku ingin ketemu sama dia.”
“Di kampung,” jawab Satria malas.
“Bagaimana kalo kita menjenguknya besok pagi!” kata
istrinya.
“Jangan.” Cegah Satria.
Tetapi istrinya terus mendesak ingin bertemu dengan
sang ibu. Dengan berat hati akhirnya dia mau untuk
menemui ibunya ini . Mereka lalu terbang ke kampung
halaman Satria.
Sesampainya di kampung, semua orang berkumpul ingin
melihat Satria. Entah kenapa Satria justru merasa
jijik dengan desanya sendiri itu. Sementara si Ibu
berlari-lari bahagia mendapatkan putranya, Satria
tiba-tiba justru mendorong ibunya sampai jatuh
terjerembab. Satria tidak mau menerima ibunya lagi.
“Kenapa kau, Nak? Kenapa tak kau akui aku sebagai
ibumu?” kata ibunya dengan sedih.
“Bukan! Kau bukan ibuku!” kata satria ketakutan.
“Ini ibumu, Nak…, ini ibumu….”kata ibunya sambil
menangis.
“Bu, dulu aku hidup miskin. Tapi sekarang hidupku
sudah menjadi mewah,” kata Satria dengan sombong.
Ibunya ternganga mendengarnya. Satria tidak tahan
lagi. Dia bergegas mengajak istrinya pulang. Sang
istri merasa heran dengan sikapnya tadi.
“Itu ibumu, Mas?” kata istri satria.
“Bukan! Dia bukan ibuku kok” jawab Satria gugup.
“Lalu kenapa kamu gugup begini ?” kata istrinya.
“Ssssttt! Diamlah! Aku tidak mau membicarakan itu
lagi!”
Kembali ke rumahnya, Satria kembali tenggelam dalam
kehidupan mewahnya dan melupakan ibunya di kampung
yang tidur langit – langit rumah yang sudah mulai
rusak, lantai yang berwarna coklat, dan dinding yang
reyot. Sang ibu masih terus terbayang-bayang akan
kejadian itu, ketika anaknya tidak mau mengakui ibunya
sendiri. Dia berdoa kepada Allah SWT semoga anaknya
itu mau mengakui ibunya sendiri, tidak terlena dengan
kemewahan.
Malam itu Satria baru pulang dari sebuah bar bersama
istrinya dalam keadaan setengah mabuk. Dia memutuskan
untuk segera mandi dan tidur. Dalam tidurnya Satria
bermimpi didatangi bapaknya yang telah meninggal.
Bapaknya berpesan agar dia menjaga ibunya. Tapi
Satria justru menolaknya dengan wajah yang ketakutan.
“Satria, kenapa kamu tidak mau mengakui dia adalah
seorang ibumu?” kata bapaknya dengan marah.
“Bukan! Dia bukan ibuku! Siapa kamu?!”
“Ini bapakmu, Nak. Bapakmu yang dulu pernah kamu ajak
jadi tukang sol sepatu itu.” Kata bapaknya dalam
mimpinya.
“Bukan! Kamu bukan bapakku! Bapakku itu sudah
meninggal!” seru Satria dengan wajah yang ketakutan
membangunkan istrinya.
“Bangun mas! Bangun!”kata Istrinya.
“Apa! Ada apa?”Satria
“Tadi kamu bermimpi. Kamu mimpi apa ?” kata Istrinya.
“Aku mimpi bapakku menemui aku dalam mimpiku.” Kata
satria ketakutan.
“Dia bilang apa sama kamu ?” dengan penasaran dia
bertanya kepada satria.
“Nggak ada,” kilah Satria. Istrinya mengerut heran.
“Loh, Tadi aku denger kamu bicara sama bapakmu.”
“Dia bilang aku di suruh menjaga ibuku,” kata satria
akhirnya.
“Memangnya ibumu mana, mas?”
“Ayo, nggak usah ngomong itu lagi. Besokkan aku mau
kerja. Baru tadi pagi aku di kasih kerjaan sama bapak
kamu.” Kata satria.
“Ya sudah,” kata istrinya.
Pagi harinya, suara ayam berkokok mereka sudah bangun
untuk memulai aktivitas seperti biasanya. Satria masih
saja teringat dengan mimpinya yang tadi malam dia
berpikir mungkin ada sesuatu yang terjadi pada ibunya.
Dia menyuruh orang lain untuk mengontrol ibunya apakah
ada kejadian yang dia tidak dia inginkan, ternyata
ibunya sakit – sakitan, dia kemudian pergi langsung ke
kampungnya, dia pergi tanpa sepengetahuan istrinya.
Istrinya capek mencari dia, istrinya khawatir karena
mungkin ada terjadi apa – apa dengan dia.
Kemudian dia pergi ke kampungnya besujud dan memohon
ampun kepada Ibunya.
“Bu, aku minta maaf,” kata Satria sambil bersimpuh di
depan ibunya.
“Kemaafan mungkin amat berat untuk di berikan, tetapi
hanya dengan kemaafan hati orang menjadi tenang,”
nasehat ibunya.
“Jadi ibu mau maafkan aku ?”
“Tentu, ibu mau memaafkan kamu tapi,” kata ibunya.
“Tapi kenapa bu?”
“Kamu harus mengenalkan ibu ini, kepada keluarga istri
kamu.”
“Baiklah, Bu. Kapan ibu mau menemui mereka?” kata
Satria senang.
“Nggak usah terburu-buru, Nak,” kata ibunya.
“Besok saja ya, bu. Soalnya aku masih merindukan ke
asrian kampung kita ini,” kata satria.
“Baiklah,” kata ibunya.
Keesokan paginya Satria berangkat bersama ibunya
menuju kota. Ibunya sempat kaget ketika baru pertama
kali merasakan naik pesawat. Satri gembira memandang
ibunya yang tampak asyik menikamati pemandangan dari
atas pesawat yang menjulang tinggi. Sesampainya di
kota, Satria mendapatkan ibunya terbengong-bengong
terpesona.
“Ini dia yang di sebut kota?” tanya ibunya takjub.
“Ya, Bu. Ini kota,” jawab Satria..
“Mana rumahmu?”
Satria menunjuk sebuah bangunan besar seperti istana
membuat ibunya terbengong-bengong untuk yang kesekian
kalinya. Satria lalu mengajak ibunya memasuki rumah
itu. Dia mengajak ibunya menemui keluarga istrinya.
Mereka menyambut kedatangan ibu Satria dengan akrab.
Satria lega. Ibunya tampak bahagia. Istri Satria
juga kelihatan tidak keberatan ibu Satria tinggal
bersama mereka sejak itu.
Tapi sekian lama tinggal serumah, istri Satria mulai
merasa terganggu dengan kehadiran ibunya. Dia
menganggap ibu Satria mulai senang mencampuri urusan
rumah tangganya. Ibu Satria juga memergoki ternyata
istri Satria berselingkuh dan tidur dengan laki-laki
lain. Istri Satria mulai merasa terancam dengan
keberadaan mertuanya.
Hingga suatu hari Satria memergoki kelakuan istrinya.
“Siapa yang kau telepon?!” bentaknya pada istrinya.
“Tidak ada, mas”
“Jangan pura-pura! Aku denganr pembicaraan kalian!”
“Tidak, mas. Aku tidak bicara apa-apa.” Istrinya
masih mencoba berkilah. Dia mulai merayunya. Satria
luluh. Diapun memaafkan istrinya.
“Ya sudah kali ini aku maaf kan kamu,” kata Satria
menenangkan diri.
“Maaf ya…” kata istrinya merayu.
Hari sudah gelap. Mereka memutuskan untuk tdiur.
Dalam tidur lagi-lagi Satria didatangi bapaknya.
Bapaknya mengatakan kalau keluarganya telah
berantakan. Keesokan harinya Satria menceritakan
mimpi itu pada ibunya. Ibunya terdiam sesaat lalu
berkata.
“Mungkin itu nasihat supaya kamu menjaga keluarga
kamu,” kata ibunya.
“Aku pernah memeregok istriku sedang berbicara dengan
laki-laki lain dengan kata-kata mesra,” adu Satria.
Ibunya menghela nafas.
“Ibu juga sering melihatnya begitu, makanya kamu jaga
baik – baik istri kamu ya?” kata ibunya.
”Ya, Bu. Aku pergi kerja dulu, Bu” Ibunya
mengangguk.
Saat di rumahnya ibunya di aniaya oleh sang istri,
karena ibunya melihat ada laki – laki masuk ke kamar
Satria dengan istrinya, bahwa ibunya tau di selingkuh
dengan laki – laki lain sang ibu di aniaya oleh
istrinya Satria, memukulnya, menjambaknya. Sang istri
memperingati Ibunya supaya dia tidak bilang kejadian
yang tadi atau dia kan di aniaya lagi.
Ibu Satria menurut. Selama 2,5 bulan dia merahasiakan
hal itu hingga merasa lelah dan bosan. Dia merasa
kasihan dengan anaknya. Dia juga tidak tahan harus
selalu berbohon pada Satria. Dia memutuskan untuk
memberitahu Satria. Satria marah. Dia berbicara
dengan istrinya. Istrinya kembali mengelak dan
meminta bukti perselingkuhannya. Ibu Satria
berbicara. Istri Satria marah besar. Dia nyaris
melakukan sesuatu untuk mencelakakan ibu tua itu.
Untung Satria berhasil mencegahnya. Satria mengusir
istrinya. Rumah istrinya kini telah menjadi hak
miliknya. Sekarang Satria menjadi duda.
Tak lama jadi duda, dia minta izin kepada ibunya untuk
menikah lagi, ibunya memberikan izin tapi
diamenasehati Satria agar mencari istri yang pantas,
memakai jilbab, muslim, dan yang taat kepada sang
Suami. Satria tentu menyetujuinya. Satria kemudian
mencari wantia yang baik dan kriteria seperti
diinginkan ibunya.
Satria bertemu dengan wanita itu ketika asyik
berjalan-jalan dan berbelanja untuk keperluan dirinya
dan ibunya. Mereka bertabrakan tidak sengaja.
Namanya Citra Putri Wulandari. Gadis itu menyebutkan
nama dan alamatnya ketika mereka berkenalan.
Satria merasa senang sekali, dia menceritakan kejadian
tadi itu kepada ibunya. Dia juga berencana untuk
menemui Citra di rumahnya
Pagi harinya dia pergi ke rumahnya Citra bertemu
dengan kedua orang tuanya Citra.
“Assalamu’alaikum,” kata satria sambil mengetuk pintu
rumah citra.
“Walaikumu’ssalam. Siapa ya…?” Citra berlari dari
belakang rumahnya.
“Saya Satria. Kita bertemu di toko waktu itu,” kata
satria
Citra langsung membukakkan pintu masuk untuk
mempersilahkan Satria untuk masuk.
Kemudian datang kedua orang tuanya citra dan bertanya
kepada Satria. Setelah mengobrol beberapa saat Satria
sudah mulai akrab dengan kedua orang tuanya Citra.
Sore itu Satria mengajak Citra berjalan – jalan untuk
menyatakan cintanya tetapi dia mau cari di tempat yang
tepat. Malam harinya mereka belum juga pulang, mereka
pergi kepantai dan menyatakan perasaannya kepada Citra
dengan puisinya.
Dalam hidupku ini …..
Begitu berbagai banyak perasaanku…
Sejak aku bertemu dengan kamu
Dengan suka dan duka
Perasaan aku akan begitu senang
Jika engkau berada didepankuku
Dengan senyuman yang begitu indah dan menawan
Dan satu kata yang kau ucapkan kata “Sayang”
Aku akan merasa sedih…
Jika engkau itu jauh… dari hidupku
Tidak memberikan senyuman manis bagai mentari
Dan tidak ada satu kata yang kau berikan kata “Sayang”
Satria membacakan puisi dengan melodi yang merdu dan
suara yang merdu pula. Citra terkagum-kagum
mendengarnya.
“Citra, kau mau jadi pacarku?” tanya Satria kemudian.
“Ya. Aku mau,” jawab Citra bahagia.
Satria kegirangan mendengar cintanya di terima. Dia
kemudian menceritakannya kepada ibunya tentang
kejadian tersebut. Setelah dia menceritakan hal
tersebut Ibunya merasa bangga dia sudah lama ingin
mempunyai menantu yang solehah. Satria kemudian
memperkenalkan pacarnya kepada ibunya.
Citra sudah mulai akrab dengan Ibunya Satria, setiap
hari dia datang kerumah Satria membantu ibunya Satria
maska dan beres – beres rumah seperti dia sudah
menikah dengan Satria. Apalagi kalo sudah menikah
mungkin Citra akan berbuat lebih. Tetapi suatu hari
Citra pergi ke luar kota karena ada tugas dari
kantornya jadi dia harus meninggalakan Satria
sementara selama 2 minggu. Satria merasa rindu yang
sekali, dia hanya bisa chat, dan email saja sama dia.
Hari minggu, Citra sudah pulang dari tugas kerjanya
dari luar kota, dia merasa senang karena kekasih hati
sudah pulang, Satria kemudian pergi ke rumah sang
kekasih.
“Halo, sayang,” sapa Satria senang.
“Halo juga,” balas Citra.
“Hari ini aku bawakan puisi untukmu.”
“Ah, bacakan!” pinta Citra tidak sabar. Satria
tersenyum.
Hidupku terasa indah
terasa berbunga - bunga
karena dirimu hidupku jadi berwarna
itu karena kehadiranmu
Karena, engkau tiada ...
meninggalkan ku pergi jauh
dalam hatiku hanya ada engkau
dimanapun engkau berada
Aku ingin melupakanmu
tetapi cintamu tetap ada
di dalam hatiku ini. . .
karena dirimu cinta yang kedua dan terakhirku
“Lho, mas? Kenapa cinta yang kedua ?” kata citra
marah.
“Karena dulu aku pernah menikah. Lalu istriku
mengkhianatiku dan kami bercerai,” kata Satria sedih.
Citra memandangnya penuh perhatian. “Kau tidak
keberatan, kan?” tanya Satria lagi. Citra tersenyum
tulus.
“Ya, mas. Tidak apa-apa. Aku tetap rela jadi
pendampingmu.”
“Terima kasih, sayang,’ kata Satria lega.
“Sama-sama, Mas. Yang penting kita harus tetap
bersama dalam keadaan suka maupun duka,” kata citra.
“Aku ingin cinta kita tetap abadi selama – lamnya,
seperti trumbu karang yang tetap bertahan walau di
sampu oleh ombak,” kata satria.
“Aku akan membawakan kamu puisi, yang berjudul “cinta
abadi’’.” Kata citra.
“oh… ya…” satria kaget.
“Cinta…abadi…”
dengan cinta mebuat orang terngiang
tetapi hanya cinta abadi yang utuh selamanya
semua orang ingin merasakan cinta yang abadi
Cinta abadi itu sulit sekali
karena cinta abadi hanya unutuk
orang yang mau menerima apa adanya
mencintai kekurangan dan kelebihan atara pasangan
Yang di sebut cinta abadi itu…
antara pasangan tiada kebencian
dengan kata - kata yang indah yaitu sayang…
dan cinta abadi hanya ada pada ketulusan hati…
Dengan cinta ….
kita bisa saling melengkapi
antara satu dan yang lainnya
apalagi jika timbul yang namanya kejujuran hati…
“Bagus banget. Siapa yang ajarin kamu?” tanya Satria
kagum.
“Kan melihatnya dari kamu. Kamu selalu membacakan
puisi yang bagus untukku,” kata citra.
“Ah.. aku jadi merasa GR.” Kata satria malu – malu.
“Mas, semoga cinta kita tetap abadi selamanya seperti
karang yang tak pernah tersapu oleh ombak,” Kata citra
“Cintaku hanya untukmu sayang,” Kata satria sambil
mencium pipinya citra
Mereka juga berjanji tidak akan meninggalkan
seseorangpun dari mereka berdua dalam keadaan
bagaimanapun, mereka tidak akan mengingkari janjinya,
Satria juga berjanji akan melamar Citra dalam waktu
yang tepat dan secepat mungkin.
Senin, 24 Maret 2008
Kehidupan dan cinta anak tukang sol sepatu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar