Rabu, 26 Maret 2008
Selasa, 25 Maret 2008
hantu vila
Pagi hari di sekolah mereka berencana ingin pergi ke vila akhir pelajaran ini sekaligus untuk merayakan kelulusan mereka di masa SMA sekarang ini.
“Hai…, teman – teman, besok kita berlibur kemana ?” tanya satria
“Oh… ya…., bagaimana kalo kita pergi ke pantai ?” kata Nadia mengusulkannya
“Kalo gitu kita pergi ke vila papaku aja…” kata Adrian
“Ya…, vila bapakmu yang itu ya…” kata Susi
“Kok kamu tau Sus…?” kata satria bingung dia tidak tau darimana susi tau vilanya
“Yah…., kan bapak kamu itu temennya bapak aku…, jadi aku pernah diajak kesana sama bapak aku…., kenalan juga sama keluarga kamu” kata Susi
“Disana pemandangannya bagus…” kata Susi menambahkan pembicaraannya
“Setuju....” teriak Satria dan Nadia, mereka stuju untuk pergi kesana
“Yah…Mumpung hari libur…., jadi bias merayakan kelulusan kita nih…” kata Adrian
Besoknya mereka bertemu di rumah Adrian sekalian pergi menggunakan mobil Adrian yang mewah, jam 08.00, mereka berempat pergi ke vila menggunakan mobil Adrian. Mereka juga singgah di tempat – tempat penduduk untuk melepas lelah, soalnya vila tersebut jauh dari kota.
“Wah... lama juga yah…” kata Nadia
“Masih jauh... Nggak nih…?” tanya Satria kesal
“Masih..., sabar dong...” kata Adrian
Pukul 21.00 wib, mereka sudah sampai di vila tersebut, vila itu kotor sekali nggak ada yang menjaganya, seperti vila berhantu gitu, tetapi mereka tetap ingin tinggal disana karena sudah malam mereka membersihkan tempat tidur mereka masing – masing terelebih dahulu.
Suara – suara yang aneh mulai didengar, bayangan muali menghantui mereka semacam kuntilanak atau yang lain. Saat itu Susi pergi ke kamar mandi, bulu kuduknya merinding saat melewati ruangan yang kosong tidak ada penghuninya di dalam sana ada suara bayi yang menangis, karena dia penasaran dia memeasuki kamar tersebut ternyata di depannya... dia melihat ada mayat bergelantungan, kemudian dia berteriak
“Ma...Ma... MAYAT.....” sam bil lari terbirit – birit dan ketakutan Susi berteriak
“Ada apa...???” tanya Adrian…
“Di... Kamar kos...kosong itu... ada mayat” dengan gugup sekaligus ketakutan Sausi berkata.
“Mana..., ruangan mana ?” tanya Adrian
“Itu... kamar yang itu...” sambil menunjuk kamar yang ada hantunya itu
“Yang ini....” sambil membelakangi kamar tersebut
tiba – tiba dia juga melihat pocong..., kuntilanak... semua hantu ada di kamar itu.
“Tooolooong...” teriak Adrian sambil lari terbirit - birit
“Ada apa...?, ada apa?” tanya Satria dan Nadia
“Wah...ini vila emang banyak hantunya...” kata Satria
“Yang bener...?” Tanya Nadia
“Kalo... gitu... aku mau pulang..., aku mau pulang “ pinta nadia sambil menangis
“Sekarang sudah larut malam besok saja kita pulang!” kata satria
Mereka menuju kamar masing – masing, Satria dan Adrian menemui hantu itu lagi, sedangkan Susi dan Nadia lagi – lagi menemui hantu itu juga di depan kamar mereka, akhirnya mereka tidur di satu kamar, Susi, Adrian, Satria, dan Nadia tidur di kamar yang sama.
Pagi harinya pukul 06.00, mereka bergegas merapikan semua pakaian mereka, dan langsung berangkat pulang, dan mereka akan kembali lagi ke vila tersebut karena mereka masih penasaran dengan hantu itu.
Senin, 24 Maret 2008
Kehidupan dan cinta anak tukang sol sepatu
Di sebuah desa yang masih indah dan alami, tinggallah
anak dari keluarga yang ayahnya seorang tukang sol
sepatu sedangkan ibunya hanya berdiam diri di rumah
mengurus rumah tangganya, dia bernama 'Satria'. Dia
anak yang suka sekali berenang setiap sore dia pergi
ke laut untuk berenang, sedangkan pagi harinya dia
pergi sekolah, siang harinya dia ikut bekerja dengan
ayahnya sebagai tukang sol sepatu.
Kemarin, dia merasakan suatu hari yang sangat
menyedihkan, bapaknya dihajar sama preman di jalanan,
sedangkan dia tidak bisa berbuat banyak untuk melawan
preman itu, dengan tangan kosong dia melawan preman
yang berjumlah banyak itu.
Pada hari ini, dia mempunyai prinsip bahwa hari ini
harus lebih baik dari yang kemarin, dia berangkat
sekolah seperti biasanya. Sesudah sekolah dia langsung
mengambil barang - barang dan alat-alat yang biasanya
dibawa oleh bapaknya yang menjadi tukang sol sepatu.
"Ayo pak, kita kerja lagi seperti kemarin !" Satria
mengajak bapaknya dengan semangat yang membara.
"Bapak lagi sakit, nak......, " bapaknya menjawab
dengan memegang dadanya yg lagi batuk, dan kesakitan
di bagaian matanya karena di hajar preman.
"Ayo..., hari ini pasti lebih baik dari yang kemarin,"
dia trus merayu bapaknya supaya dia bisa kerja lagi.
Dengan semangat bapaknya menjawab "Baiklah... nak...,
betul kata-kata kamu, jangan pantang menyerah."
"Gitu dong pak! " Satria tersenyum melihat bapaknya
mau bekerja lagi.
"Mengapa kamu lebih semangat dari hari - hari yang
kemarin?" tanya ibunya.
"Karena Setiap hari itu adalah hari yang baru maka
hadapilah hari yang baru itu dengan semangat
baru....,"Satria memberitahukan bapak dan ibunya bahwa
hari itu pasti berbeda.
Bapaknya Satria menyuruh mereka berhenti
berkata"Ayo... jangan ngomong terus..., ibu juga ajak
ngomong lagi anaknya!"
Mereka berjalan dengan langkah yang penuh harapan agar
bisa mendapatkan hasil yang banyak hari ini.
“Sol……., sol………, solll…. Sol sepatu…!” dengan
serentaknya mereka berteriak.
"Saya pak, saya .....!" teriak seorang ibu sambil
menuju tukang sol sepatu tersebut.
"Ya.. ya bu... kenapa sepatunya?” bapaknya Satria
bertanya kepada si ibu tadi.
"Ini sepatu anak saya udah rusak padahal kemarin saja
saya beli sayangkan kalo dibuang " ibu ini
memberitahukan Bapaknya Satria.
"Mari saya perbaiki...." kata bapaknya Satria sambil
mengambil sepatu anak ibu itu.
Beberapa menit kemudian, Satria disuruh untuk memberi
sepatu yg telah diperbaiki.
"Ini bu.. udah jadi...” Satria memberikan sepatu yg
telah diperbaiki oleh bapaknya.
"Makasi, berapa jadi harganya? " tanya si ibu itu
mengambil sepatu yang sudah jadi.
"Cuman Rp. 2.000 saja,” jawab Satria datar.
“Ini pak..,makasi..." si ibu itu memberikan uang pada
Satria.
“Sama–sama bu…” Sambil tersenyum satria mengambilnya.
Kemudian mereka berdua berjalan lagi untuk mencari
rizqi di tengah jalan yang sepi Satria menemukan
sepatu yang berharga, berupa sepatu kaca, tetapi
sepatu ini masih kotor. Kemudian setelah dibersihkan
dikemas dalam bentuk rapi dia menjualnya pada para
raja, dan sang raja membelinya dengan harga yang cukup
mahal. Sepasang sepatu itu, raja membelinya satu
milyar, dengan sangat bahagia bapaknya mengambilnya.
Akhirnya dia hidup bahagia dengan keluarganya.
Sekarang mereka pergi ke kota, jadi mereka merubah
kehidupannya yaitu, pedagang yang sukses menjual
berbagai makanan, mempunyai restoran yang terkenal.
Dan setiap dia berjalan di kota semua orang
menyapanya, dan menjadi keluarga yang terpandang.
“Selamat pagi bapaknya Satria…” orang–orang menyapa
bapaknya Satria.
“Pagi bu…pagi pak…!” sambil tersenyum bapaknya Satria
menyapa orang dengan gaya sombong.
“Saya mau melamar kerja di rumah bapak boleh?” tanya
seseorang dan menawarkan dirinya untuk bekerja di
tempatnya.
“Boleh – boleh saja…!” dia menerimanya.
Tetapi setelah jadi orang kaya dia memusuhi
orang–orang di sekitarnya, dia juga dimusuhi oleh
semua orang, berbagai bencana yang di hadapinya , dia
dirampok oleh beberapa perampok yang datang di
rumahnya, di saat dia tidur dengan nyenyaknya,
terdengan suara–suara yang begitu mencurigakan, tetapi
dia hiraukan, mungkin saja itu adalah kucing, tetapi
perampok mengambil seluruh hartanya surat rumah–rumah
penting dan lainnya.
Pagi harinya, dia berteriak sekencang–kencangnya.
“Tolong…tolong…rumah saya kerampokan!” bapaknya Satria
berteriak sekencang-kencangnya.
Tidak ada satu orangpun yang mau menolongnya, dan
tiba-tiba polisi datang.
“Pemisi pak!” kata polisi sambil menghampiri mereka
sekeluarga.
“Ada apa ini ?” bapaknya Satria berkata.
“Ini bukan rumah anda, dan surat–surat rumah ini sudah
ada pada saya, dan di nyatakan bahwa bapak tidak
memiliki rumah ini,” kata pak polisi itu sambil
menyegel rumah Satria.
“Lho.. ini rumah saya hasil kerja keras saya,” kata
bapaknya satria tidak mengerti. Tapi polisi itu tidak
peduli.
“Gimana ini, Pak?” tanya Satria bingung.
“Nggak tahu, Sat. Bapak juga nggak tahu harus pergi
kemana.”
“Kita pergi kerumah yang dulu aja,” kata ibu
menyarankannya
“Baiklah, kalo begitu mari kita pergi kesana,” dengan
putus asa bapak menyetujui saran ibu Satria.
Merekapun berjalan beriringan penuh kesedihan menuju
rumah lama mereka. Samapai di sana mereka
membersihkan lagi tempat yang sudah mereka tinggalkan
dulu.
Pagi harinya, mereka kembali beraktifitas, bapak
Satria pergi ke toko yang dulu pernah dia tempati
untuk berdagang. Tetapi sesampainya disana semua
barang – barangnya di ambil isi – isinya semua kosong.
Keterkejutan membuatnya terserang jantung dan
akhirnya menghembuskan nafas terakhir.
Saat menghadapi pemakaman bapaknya Satria hanya bisa
menangis. Dia sangat sedih. Tapi dia sadar kesedihan
itu tidak ada gunanya. Dia mencoba bangkit dan
berpikir untuk merubah hidupnya.
“Aku tidak boleh gagal aku harus bisa, tanpa bapakpun
aku bisa membahagiakan ibuku”.
Satria berpikir untuk merantau ke kota untuk merubah
hidupnya. Ternyata hidup di kota juga tidak kalah
sulitnya. Di tengah perjalanannya dia kecopetan
padahal bekalnya cuman itu. Demi mempertahankan
hidupnya dia mengemis dijalanan dan tidur di tempat
yang beratapan langit biru sampai suatu hari seorang
perempuan yang kasihan dan mau membantunya.
Ketika mereka pertama bertemu, Satria menemukan
perempuan itu membutuhkan seseorang untuk membawakan
belanjaannya. Satria mengamati perempuan itu.
Dandanannya menunjukkan dia orang kaya. Lagipula dia
cantik. Perempuan itu membuatnay tertarik. Satria
tidak ingin berbuat jahat padanya. Dia hanya ingin
mengenal lebih dekat perempuan itu. Lagipula dia
berharap bisa mendapatkan sedikit uang dari perempuan
itu. Satriapun mendekat dan menawarkan bantuan.
Tak disangaka wanita itu menanggapinya. Merekapun
berkenalan. Berawal dengan kedipan mata, lalu
berlanjut pada pendekatan selama berbulan-bulan.
Sampai akhirnya dia berpacaran dengan wanita ini
selama kurang lebih 5 tahun. Mereka lalu menikah dan
wanita itu membawa Satria ke rumahnya yang mewah.
Mimpi Satria terkabul.
Karena terlau lama terlena dengan kehidupan yang mewah
ini, Satria sudah mulai melupakan ibunya yang ada di
kampung. Sang istri lalu bertanya kepada Satria.
“Mas, dimana ibu kamu? Aku ingin ketemu sama dia.”
“Di kampung,” jawab Satria malas.
“Bagaimana kalo kita menjenguknya besok pagi!” kata
istrinya.
“Jangan.” Cegah Satria.
Tetapi istrinya terus mendesak ingin bertemu dengan
sang ibu. Dengan berat hati akhirnya dia mau untuk
menemui ibunya ini . Mereka lalu terbang ke kampung
halaman Satria.
Sesampainya di kampung, semua orang berkumpul ingin
melihat Satria. Entah kenapa Satria justru merasa
jijik dengan desanya sendiri itu. Sementara si Ibu
berlari-lari bahagia mendapatkan putranya, Satria
tiba-tiba justru mendorong ibunya sampai jatuh
terjerembab. Satria tidak mau menerima ibunya lagi.
“Kenapa kau, Nak? Kenapa tak kau akui aku sebagai
ibumu?” kata ibunya dengan sedih.
“Bukan! Kau bukan ibuku!” kata satria ketakutan.
“Ini ibumu, Nak…, ini ibumu….”kata ibunya sambil
menangis.
“Bu, dulu aku hidup miskin. Tapi sekarang hidupku
sudah menjadi mewah,” kata Satria dengan sombong.
Ibunya ternganga mendengarnya. Satria tidak tahan
lagi. Dia bergegas mengajak istrinya pulang. Sang
istri merasa heran dengan sikapnya tadi.
“Itu ibumu, Mas?” kata istri satria.
“Bukan! Dia bukan ibuku kok” jawab Satria gugup.
“Lalu kenapa kamu gugup begini ?” kata istrinya.
“Ssssttt! Diamlah! Aku tidak mau membicarakan itu
lagi!”
Kembali ke rumahnya, Satria kembali tenggelam dalam
kehidupan mewahnya dan melupakan ibunya di kampung
yang tidur langit – langit rumah yang sudah mulai
rusak, lantai yang berwarna coklat, dan dinding yang
reyot. Sang ibu masih terus terbayang-bayang akan
kejadian itu, ketika anaknya tidak mau mengakui ibunya
sendiri. Dia berdoa kepada Allah SWT semoga anaknya
itu mau mengakui ibunya sendiri, tidak terlena dengan
kemewahan.
Malam itu Satria baru pulang dari sebuah bar bersama
istrinya dalam keadaan setengah mabuk. Dia memutuskan
untuk segera mandi dan tidur. Dalam tidurnya Satria
bermimpi didatangi bapaknya yang telah meninggal.
Bapaknya berpesan agar dia menjaga ibunya. Tapi
Satria justru menolaknya dengan wajah yang ketakutan.
“Satria, kenapa kamu tidak mau mengakui dia adalah
seorang ibumu?” kata bapaknya dengan marah.
“Bukan! Dia bukan ibuku! Siapa kamu?!”
“Ini bapakmu, Nak. Bapakmu yang dulu pernah kamu ajak
jadi tukang sol sepatu itu.” Kata bapaknya dalam
mimpinya.
“Bukan! Kamu bukan bapakku! Bapakku itu sudah
meninggal!” seru Satria dengan wajah yang ketakutan
membangunkan istrinya.
“Bangun mas! Bangun!”kata Istrinya.
“Apa! Ada apa?”Satria
“Tadi kamu bermimpi. Kamu mimpi apa ?” kata Istrinya.
“Aku mimpi bapakku menemui aku dalam mimpiku.” Kata
satria ketakutan.
“Dia bilang apa sama kamu ?” dengan penasaran dia
bertanya kepada satria.
“Nggak ada,” kilah Satria. Istrinya mengerut heran.
“Loh, Tadi aku denger kamu bicara sama bapakmu.”
“Dia bilang aku di suruh menjaga ibuku,” kata satria
akhirnya.
“Memangnya ibumu mana, mas?”
“Ayo, nggak usah ngomong itu lagi. Besokkan aku mau
kerja. Baru tadi pagi aku di kasih kerjaan sama bapak
kamu.” Kata satria.
“Ya sudah,” kata istrinya.
Pagi harinya, suara ayam berkokok mereka sudah bangun
untuk memulai aktivitas seperti biasanya. Satria masih
saja teringat dengan mimpinya yang tadi malam dia
berpikir mungkin ada sesuatu yang terjadi pada ibunya.
Dia menyuruh orang lain untuk mengontrol ibunya apakah
ada kejadian yang dia tidak dia inginkan, ternyata
ibunya sakit – sakitan, dia kemudian pergi langsung ke
kampungnya, dia pergi tanpa sepengetahuan istrinya.
Istrinya capek mencari dia, istrinya khawatir karena
mungkin ada terjadi apa – apa dengan dia.
Kemudian dia pergi ke kampungnya besujud dan memohon
ampun kepada Ibunya.
“Bu, aku minta maaf,” kata Satria sambil bersimpuh di
depan ibunya.
“Kemaafan mungkin amat berat untuk di berikan, tetapi
hanya dengan kemaafan hati orang menjadi tenang,”
nasehat ibunya.
“Jadi ibu mau maafkan aku ?”
“Tentu, ibu mau memaafkan kamu tapi,” kata ibunya.
“Tapi kenapa bu?”
“Kamu harus mengenalkan ibu ini, kepada keluarga istri
kamu.”
“Baiklah, Bu. Kapan ibu mau menemui mereka?” kata
Satria senang.
“Nggak usah terburu-buru, Nak,” kata ibunya.
“Besok saja ya, bu. Soalnya aku masih merindukan ke
asrian kampung kita ini,” kata satria.
“Baiklah,” kata ibunya.
Keesokan paginya Satria berangkat bersama ibunya
menuju kota. Ibunya sempat kaget ketika baru pertama
kali merasakan naik pesawat. Satri gembira memandang
ibunya yang tampak asyik menikamati pemandangan dari
atas pesawat yang menjulang tinggi. Sesampainya di
kota, Satria mendapatkan ibunya terbengong-bengong
terpesona.
“Ini dia yang di sebut kota?” tanya ibunya takjub.
“Ya, Bu. Ini kota,” jawab Satria..
“Mana rumahmu?”
Satria menunjuk sebuah bangunan besar seperti istana
membuat ibunya terbengong-bengong untuk yang kesekian
kalinya. Satria lalu mengajak ibunya memasuki rumah
itu. Dia mengajak ibunya menemui keluarga istrinya.
Mereka menyambut kedatangan ibu Satria dengan akrab.
Satria lega. Ibunya tampak bahagia. Istri Satria
juga kelihatan tidak keberatan ibu Satria tinggal
bersama mereka sejak itu.
Tapi sekian lama tinggal serumah, istri Satria mulai
merasa terganggu dengan kehadiran ibunya. Dia
menganggap ibu Satria mulai senang mencampuri urusan
rumah tangganya. Ibu Satria juga memergoki ternyata
istri Satria berselingkuh dan tidur dengan laki-laki
lain. Istri Satria mulai merasa terancam dengan
keberadaan mertuanya.
Hingga suatu hari Satria memergoki kelakuan istrinya.
“Siapa yang kau telepon?!” bentaknya pada istrinya.
“Tidak ada, mas”
“Jangan pura-pura! Aku denganr pembicaraan kalian!”
“Tidak, mas. Aku tidak bicara apa-apa.” Istrinya
masih mencoba berkilah. Dia mulai merayunya. Satria
luluh. Diapun memaafkan istrinya.
“Ya sudah kali ini aku maaf kan kamu,” kata Satria
menenangkan diri.
“Maaf ya…” kata istrinya merayu.
Hari sudah gelap. Mereka memutuskan untuk tdiur.
Dalam tidur lagi-lagi Satria didatangi bapaknya.
Bapaknya mengatakan kalau keluarganya telah
berantakan. Keesokan harinya Satria menceritakan
mimpi itu pada ibunya. Ibunya terdiam sesaat lalu
berkata.
“Mungkin itu nasihat supaya kamu menjaga keluarga
kamu,” kata ibunya.
“Aku pernah memeregok istriku sedang berbicara dengan
laki-laki lain dengan kata-kata mesra,” adu Satria.
Ibunya menghela nafas.
“Ibu juga sering melihatnya begitu, makanya kamu jaga
baik – baik istri kamu ya?” kata ibunya.
”Ya, Bu. Aku pergi kerja dulu, Bu” Ibunya
mengangguk.
Saat di rumahnya ibunya di aniaya oleh sang istri,
karena ibunya melihat ada laki – laki masuk ke kamar
Satria dengan istrinya, bahwa ibunya tau di selingkuh
dengan laki – laki lain sang ibu di aniaya oleh
istrinya Satria, memukulnya, menjambaknya. Sang istri
memperingati Ibunya supaya dia tidak bilang kejadian
yang tadi atau dia kan di aniaya lagi.
Ibu Satria menurut. Selama 2,5 bulan dia merahasiakan
hal itu hingga merasa lelah dan bosan. Dia merasa
kasihan dengan anaknya. Dia juga tidak tahan harus
selalu berbohon pada Satria. Dia memutuskan untuk
memberitahu Satria. Satria marah. Dia berbicara
dengan istrinya. Istrinya kembali mengelak dan
meminta bukti perselingkuhannya. Ibu Satria
berbicara. Istri Satria marah besar. Dia nyaris
melakukan sesuatu untuk mencelakakan ibu tua itu.
Untung Satria berhasil mencegahnya. Satria mengusir
istrinya. Rumah istrinya kini telah menjadi hak
miliknya. Sekarang Satria menjadi duda.
Tak lama jadi duda, dia minta izin kepada ibunya untuk
menikah lagi, ibunya memberikan izin tapi
diamenasehati Satria agar mencari istri yang pantas,
memakai jilbab, muslim, dan yang taat kepada sang
Suami. Satria tentu menyetujuinya. Satria kemudian
mencari wantia yang baik dan kriteria seperti
diinginkan ibunya.
Satria bertemu dengan wanita itu ketika asyik
berjalan-jalan dan berbelanja untuk keperluan dirinya
dan ibunya. Mereka bertabrakan tidak sengaja.
Namanya Citra Putri Wulandari. Gadis itu menyebutkan
nama dan alamatnya ketika mereka berkenalan.
Satria merasa senang sekali, dia menceritakan kejadian
tadi itu kepada ibunya. Dia juga berencana untuk
menemui Citra di rumahnya
Pagi harinya dia pergi ke rumahnya Citra bertemu
dengan kedua orang tuanya Citra.
“Assalamu’alaikum,” kata satria sambil mengetuk pintu
rumah citra.
“Walaikumu’ssalam. Siapa ya…?” Citra berlari dari
belakang rumahnya.
“Saya Satria. Kita bertemu di toko waktu itu,” kata
satria
Citra langsung membukakkan pintu masuk untuk
mempersilahkan Satria untuk masuk.
Kemudian datang kedua orang tuanya citra dan bertanya
kepada Satria. Setelah mengobrol beberapa saat Satria
sudah mulai akrab dengan kedua orang tuanya Citra.
Sore itu Satria mengajak Citra berjalan – jalan untuk
menyatakan cintanya tetapi dia mau cari di tempat yang
tepat. Malam harinya mereka belum juga pulang, mereka
pergi kepantai dan menyatakan perasaannya kepada Citra
dengan puisinya.
Dalam hidupku ini …..
Begitu berbagai banyak perasaanku…
Sejak aku bertemu dengan kamu
Dengan suka dan duka
Perasaan aku akan begitu senang
Jika engkau berada didepankuku
Dengan senyuman yang begitu indah dan menawan
Dan satu kata yang kau ucapkan kata “Sayang”
Aku akan merasa sedih…
Jika engkau itu jauh… dari hidupku
Tidak memberikan senyuman manis bagai mentari
Dan tidak ada satu kata yang kau berikan kata “Sayang”
Satria membacakan puisi dengan melodi yang merdu dan
suara yang merdu pula. Citra terkagum-kagum
mendengarnya.
“Citra, kau mau jadi pacarku?” tanya Satria kemudian.
“Ya. Aku mau,” jawab Citra bahagia.
Satria kegirangan mendengar cintanya di terima. Dia
kemudian menceritakannya kepada ibunya tentang
kejadian tersebut. Setelah dia menceritakan hal
tersebut Ibunya merasa bangga dia sudah lama ingin
mempunyai menantu yang solehah. Satria kemudian
memperkenalkan pacarnya kepada ibunya.
Citra sudah mulai akrab dengan Ibunya Satria, setiap
hari dia datang kerumah Satria membantu ibunya Satria
maska dan beres – beres rumah seperti dia sudah
menikah dengan Satria. Apalagi kalo sudah menikah
mungkin Citra akan berbuat lebih. Tetapi suatu hari
Citra pergi ke luar kota karena ada tugas dari
kantornya jadi dia harus meninggalakan Satria
sementara selama 2 minggu. Satria merasa rindu yang
sekali, dia hanya bisa chat, dan email saja sama dia.
Hari minggu, Citra sudah pulang dari tugas kerjanya
dari luar kota, dia merasa senang karena kekasih hati
sudah pulang, Satria kemudian pergi ke rumah sang
kekasih.
“Halo, sayang,” sapa Satria senang.
“Halo juga,” balas Citra.
“Hari ini aku bawakan puisi untukmu.”
“Ah, bacakan!” pinta Citra tidak sabar. Satria
tersenyum.
Hidupku terasa indah
terasa berbunga - bunga
karena dirimu hidupku jadi berwarna
itu karena kehadiranmu
Karena, engkau tiada ...
meninggalkan ku pergi jauh
dalam hatiku hanya ada engkau
dimanapun engkau berada
Aku ingin melupakanmu
tetapi cintamu tetap ada
di dalam hatiku ini. . .
karena dirimu cinta yang kedua dan terakhirku
“Lho, mas? Kenapa cinta yang kedua ?” kata citra
marah.
“Karena dulu aku pernah menikah. Lalu istriku
mengkhianatiku dan kami bercerai,” kata Satria sedih.
Citra memandangnya penuh perhatian. “Kau tidak
keberatan, kan?” tanya Satria lagi. Citra tersenyum
tulus.
“Ya, mas. Tidak apa-apa. Aku tetap rela jadi
pendampingmu.”
“Terima kasih, sayang,’ kata Satria lega.
“Sama-sama, Mas. Yang penting kita harus tetap
bersama dalam keadaan suka maupun duka,” kata citra.
“Aku ingin cinta kita tetap abadi selama – lamnya,
seperti trumbu karang yang tetap bertahan walau di
sampu oleh ombak,” kata satria.
“Aku akan membawakan kamu puisi, yang berjudul “cinta
abadi’’.” Kata citra.
“oh… ya…” satria kaget.
“Cinta…abadi…”
dengan cinta mebuat orang terngiang
tetapi hanya cinta abadi yang utuh selamanya
semua orang ingin merasakan cinta yang abadi
Cinta abadi itu sulit sekali
karena cinta abadi hanya unutuk
orang yang mau menerima apa adanya
mencintai kekurangan dan kelebihan atara pasangan
Yang di sebut cinta abadi itu…
antara pasangan tiada kebencian
dengan kata - kata yang indah yaitu sayang…
dan cinta abadi hanya ada pada ketulusan hati…
Dengan cinta ….
kita bisa saling melengkapi
antara satu dan yang lainnya
apalagi jika timbul yang namanya kejujuran hati…
“Bagus banget. Siapa yang ajarin kamu?” tanya Satria
kagum.
“Kan melihatnya dari kamu. Kamu selalu membacakan
puisi yang bagus untukku,” kata citra.
“Ah.. aku jadi merasa GR.” Kata satria malu – malu.
“Mas, semoga cinta kita tetap abadi selamanya seperti
karang yang tak pernah tersapu oleh ombak,” Kata citra
“Cintaku hanya untukmu sayang,” Kata satria sambil
mencium pipinya citra
Mereka juga berjanji tidak akan meninggalkan
seseorangpun dari mereka berdua dalam keadaan
bagaimanapun, mereka tidak akan mengingkari janjinya,
Satria juga berjanji akan melamar Citra dalam waktu
yang tepat dan secepat mungkin.
Minggu, 23 Maret 2008
cinta dan kehidupan
"Cinta" ibarat kupu - kupu yang berterbangan memberi warna pada setiap pandangan, ia takkan berhenti meski dipanggil untuk kembali mengisi dan mewarnai hati yang sepi.
Tiada cinta yang abadi ibarat lilin dan kupu - kupu, keduanya penuh pesaona saat pertamanya saja, dan kehilangan makna di akhir cerita.
"Cinta" itu membutuhkan pengorbanan, pengertian dan kasih sayang yang paling dalam untuk mencapai kebahagiaan, cinta sejati ada pada diri kita sendiri, cobalah untuk merenungi dan resapilah semua itu. Dengan adanya ketulusan hati serta kejujuran diri maka cinta itu akan abadi dan bahagia selamanya, akan tetapi cinta tak selalu bahagia dan abadi selamanya apabila tidak mempunyai kejujuran dan ketulusan hati.
"Cinta" sangat membutuhkan kejujuran dan saling terbuka supaya mencapai kebahagiaan cinta.
"kehidupan" adalah suatu nikmat bagi seseorang yang menyadari dan menghargai sebuah kehidupan, orang yang menyadari arti sebuah kehidupan yaitu orang yang tidak pernah putus asa dalam hidupnya, tidak ada kata bunuh diri dalam hidupnya.
Hidup ini seperti jalan yang di taburi dengan bunga - bunga dan adakalanya bunga - bunga itu disirami dengan air mata dan darah, sebab hidup itu ada susahnya dan ada waktu bahagiaoleh karena itu hiduplah seperti pohon yang rindang tempat insan berteduh dan memetik hasil, jangan seperti pohon yang kering yang hanya layak di jadikan kayu bakar.
Dalam hidup ini mempunyai hari yang baru, setiap hari adalah hari yang baru maka hadapilah hari yang baru itu dengan semangat baru. dan hidup ini mempunyai masa yang berbeda, orang pasti ingin hidupnya bahagia di masa depan cuman satu caranya Jangan kalian melihat masa lalu karena masa lalu itu seperti melihat dari tikap kaca yang berdebu segalanya nampak senyap dan tak berarti, nada boleh melihat masa lalu teteapi anda melihat masa lalu itu untuk memperbaiki diri dimasa yang akan datang.
Sabtu, 22 Maret 2008
kehidupan
Hidup ini adalah seperti suatu jalan yang di taburi dengan bunga-bunga dan ada kalanya bunga itu disirami dengan air mata dan darah, sebab hidup itu ada waktu susahnya dan ada kala waktunya sedih. oleh karena itu, hiduplah seperti pohon yang rindang tempat insan berteduh dan memetik hasil, jangan hidup seperti pohon yang kering yang hanya layak di jadikan kayu bakar, dan kemudian hanya menjadi abu yang tiada artinya.
Dan dalam hidup itu pasti ada yang jahat dan baik, ada juga orang - orang yang sombong, oleh karena itu pembohong terbesar dalam hidup ini adalah, orang yang selalu ngomong tentang dirinya sendiri. Jangan sekali kali anda percaya seseorang yang ngomong tentang dirinya sendiri tanpa ada bukti yang pasti.
Hidup ini mempunyai hari yang berbeda-beda dan setiap hari itu adalah sesuatu hari yang baru maka hadapilah hari yang baru itu dengan semangat yang baru.
perasaanku
berbagai banyak perasaanku…
Dan itu terjadi pada waktu yang berbeda
Dengan suka dan duka
Perasaan aku akan begitu senang
Jika engkau berada didepankuku
Dengan senyuman yang begitu indah dan menawan
Dan satu kata yang kau ucapkan yaitu “Sayang”
Aku akan merasa sedih…
Jika engkau itu jauh… dari hidupku
Tidak memberikan senyuman manis bagai mentari
Dan tidak ada satu kata yang kau berikan yaitu “Sayang”
sunyi dan sepi
dengan kerlip bintang…
dan senyuman sang rembulan…
tapi kini tiada malam seindah itu
Karena malam ini tanpa kehadiranmu
hanya dengan kehadiranmulah…
malam yang jelek menjadi begitu indah
dengan syuman menawanmu
Malam yang begitu sepi dan sunyi ini
aku hanya ditemani suara anjing menangis
dan aku merindukanmu dengan sejujurnya…
Andaikan engkau hadir pada malam ini semua terasa indah…
senandung ketika hujan
Bulir air mata menetes satu persatu membentuk cipratan ke dalam dasar kalbu. Semua semakin tak terarah, tak ada orang yang peduli denganku!
Mengapa semua pergi meninggalkanku! Tiada pernah peduli. Tiada ingin tahu apa yang kurasakan. Apa menurut mereka rumah mewah dan fasilitas adalah jawabannya? Mengapa? Mengapa?
Tanpa komando dari siapapun ku hanya melangkahkan kaki tak tahu arah, mengikuti kemana langkah kaki ini mau menuju, dan tanpa disangka-sangka ku berada di sebuah taman yang telah tak terawat. Tanpa peduli kumasuki taman itu. Indah! Namun, sayang mengapa sebagian taman ini telah rusak.
Dengan iba akhirnya kurawat taman tersebut. Tanpa diduga kini, semua rasa sedihku telah lenyap terhapus dengan keindahan alam yang terbentang luas menandakan KeMaha Kuasaan-Nya. Sehingga kini, tak disangka sebulan pun telah berlalu.
Bagaimana tidak ku merasakan ketenangan ini? Karena rasa sedihku telah terhapus dengan keindahan tiada tara. Setiap sore ku datang ke taman ini ‘tuk bersenandung menikmati alam yang begitu bersahabat denganku tiada pernah membuatku bersedih ataupun resah. Tidak seperti ku berada di rumah yang serasa memenjarakanku.
Baiklah, kurasa lebih baik kulupakan sejenak saja perasaan yang hanya membuat putus asa. Kini, hujan turun rintik-rintik. Ku duduk di atas bongkahan batu besar seraya memandang lukisan alam yang tak mampu seorangpun menandinginya. Ini adalah ciptaan “Sang Pendekor Besar” Yang Kuasa memperindah segalanya.
◊◊◊◊◊
Sayup-sayup malam pun mulai terdengar mengantarkan sebagian orang untuk melepas lelah sesaat setelah sibuk seharian.
“Lihat, dasar ibu gak berguna! Anak belum pulang. Keluyuran gak jelas sampai malam begini gak diurusin!”
Malam itu seorang laki-laki paruh baya, murka tak dapat mengendalikan emosi.
“Ampun, Pak. Aku sudah cari Dinda ke mana-mana. Namun, tak ada hasilnya,” seorang ibu paruh baya pun bersimpuh di hadapan suaminya. “Iya, kamu bukan mencari anak itu. Tapi, hanya sekadar keluyuran doang!!”
“Tapi, Pak…”
“Saya tidak mau tahu, kamu harus cari anak tersebut!” ucap lelaki itu dengan mata berkilat-kilat. Terlihatlah di rumah tersebut bagaikan tempat adu pendapat yang tak terselesaikan. Hujan lebat disertai petir menyambar-nyambar membentuk sebuah simfoni yang tak beraturan.
Dari balik pintu seorang gadis remaja masih mengenakan pakaian sekolah dengan rambut dikepang dua, basah kuyup terguyur hujan seraya mengendap-ngendap masuk.
“Bagus, lampu telah mati. Pasti Ayah dan Bunda telah tidur.” Ia langkahkan kakinya memasuki rumah yang mewah, yang baginya hanyalah memenjarakan dirinya. Tanpa disangka, dengan tiba-tiba lampu menyala dan dihadapannya seorang lelaki paruh baya bertubuh tegap berdiri tepat di hadapan gadis tersebut.
“Dari mana saja kamu?” Hanya kata itu yang dilontarkan lelaki itu tanpa aba-aba ia menampar putrinya. Sehingga tersungkurlah gadis tersebut. Tiada kuasa untuk mengeluarkan kata-kata, ia hanya mampu menangis.
Waktu pun, bergulir dengan cepat. Lelaki paruh baya itu mengusir istri dan putrinya. Tanpa arah tujuan ditemani rintik hujan mereka pun melangkah.
◊◊◊◊◊
Sore hari yang mendung semakin muram. Terlihat seorang gadis terduduk lesu diatas batu seraya bersedih.
Sementara, di sebuah gubuk kecil dekat batu tersebut ada seorang ibu paruh baya sedang menyulam. Ibu itu terlihat letih. Namun, wajah ayunya masih terlihat jelas walau kelelahan hidup telah menderanya. Suasana begitu hening.
Dari keadaan muram. Tiba-tiba saja terdengar suara yang begitu indah dan merdu. Bagi yang mendengarya tentu akan merasa kagum seraya menikmati indahnya alam. Tiada lama kemudian, turunlah rintik-rintik hujan dan semakin lama semakin lebat. Buru-buru gadis yang terduduk di atas batu pun berlari memasuki sebuah gubuk kecil seraya tersenyum dengan ibunya.
◊◊◊◊◊
Di lain tempat, seorang laki-laki paruh baya terduduk lesu di atas sebuah kursi roda meratapi nasib diri. Yang kini, sendiri tiada ditemani seorang keluargapun. Di sana tertata apik barang-barang mahal, rumah dengan ruangan yang besar. Namun, hanya dihuni seorang laki-laki paruh baya dan kedua orang pembantu yang masih setia dengan majikannya.
Laki-laki tersebut sungguh menyesal karena telah mengusir istri dan putrinya. Tanpa pernah ia memperdulikan keluarganya. Ia selalu menuruti hawa nafsunya.
Sore yang mendung membuat keadaan di sekitar dingin. Seorang laki-laki paruh baya tertidur lesu di atas ranjang mahal, ia sendiri tiada orang yang menemaninya. Keadaannya semakin parah, demam yang tinggi. Tiba-tiba saja nafasnya sesak tiada lama nafasnya tiada kembali kepada sang peminjam. Karena telah kembali kepada Sang Pemilik yang sesungguhnya……
Jumat, 08 Februari 2008
Sahabat terbaik
Dan sahabat terbaik itu ....seperti seseorang yang berarti . . .dalam hidup ini...
hanya di butuhkan sahabat yang terbaikdalam hal apapun...
Tapi.. anda harus.. hati - hati...dengan sahabat terbaik itu...
anda menggapnya dia adalah orang yang terbaik
tetapi dia malah atau mungkin melakukan yang sebalikny.
Anda merasakan sahabt terbaik itu tiada
tetapi sebenranya sahabat terbaik itu ada pada diri anda sendiri
karena sahabat terbaik itu tumbuh dari diri anda sendiri...
dan anda harus berusaha menjadi sahabat terbaik bagi anda maupun orang lain...
Kamis, 07 Februari 2008
karyawan aneh
"Barang apakah ini?" tanya Sutisna
"Ini adalah termos." kata penjual
"Untuk apa itu?" tanya Sutisna
"Membuat yang panas tetap panas, yang dingin tetap dingin." kata penjual
"oke..., saya akan beli."kata Sutisna
Besoknya Sutisna ke kantor dengan membawa termos dan akan berlangsung rapat penting.
Sebelum rapat.
"Mengapa Anda membawa termos?" tanya bos
"Karena membuat yang panas tetap panas, yang dingin tetap dingin." kata Sutisna
"Anda isi apa?" tanya bosnya lagi
"Dua gelas kopi dan secangkir es krim." kata Sutisna
Bosnya jadi bengong.
Tak lama berlangsungnya rapat, ada rekan yang terlambat datang.
"Maaf saya terlambat. Saya terjebak di dalam lift selama 4 jam karena listrik padam." kata rekannya dan sambil meminta maaf kepada bosnya
"Tidak apa, saya juga." kata Sutisna
"kenapa emangnya ?"rekan yang terlambat
"Saya terjebak di eskalator selama 3 jam."kata Sutisna
Lagi - lagi karyawan yang lain bengong dengan tingkah lakunya yang aneh - aneh itu.






